Jika ini membosankan, maka tinggalkanlah. aku hanya menulis apa yang aku ingin tulis :)

Minggu, 19 Juli 2015

Makhluk Sejuta Topeng

Untuk makhluk Tuhan yang paling pandai bersandiwara memendam sejuta rasa yang ia rasakan, Wanita.

Hay wanita, masih kuat bersandiwara dengan senyuman palsu dan prinsip rapuh yang dibungkus ketegaran ?

Hay wanita, masih kuat berjalan sendiri tanpa mempunyai tempat untuk bersandar ?

Hay wanita, masih mau tetap menutup hati padahal sesungguhnya hati kecil sudah meminta untuk terbuka ?

Hay wanita, masih sanggup menghadapi semuanya sendiri diatas kaki sendiri ?

Sesungguhnya ia adalah makhluk yang sangat ingin dicintai tanpa ingin dikasihani.
Sesungguhnya, segala keangkuhan yang kamu saksikan hanyalah sandiwara semata.
Karena mereka, hanya ingin dicintai sepenuh hati.
Karena mereka ingin diterima apa adanya dengan segala kekurangan yang tidak bisa dikurangi.

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan wanita merasa sedih kecuali dirinya sendiri.
Karena wanita hanya ingin diperjuangkan dengan sepenuh hati, bukan setengah hati.

Dewi Putri Lestari.

Ingat-Ingat yang Masih Ingat

Semalam saya menghadiri undangan pernikahan teman kecil saya sekaligus juga teman Smp saya.
Ini acara pernikahan kedua yang berhasil saya datangi. Kenapa harus dikatakan berhasil ? Karena biasanya tiap teman saya menikah kadang ada sesuatu yang membuat saya tidak bisa hadir. Selain alasan gak di undang, kadang ketika saya diundang, saya sudah kembali lagi ke perantauan.
Dan semalam  saya berhasil datang dengan rasa gentar "mau kesana sama siapa?"
"Udah lama banget gak pernah ketemu, apa iya ada yang masih ingat saya"

Sementara saya bukan deretan siswa yang tenar pada masanya. Saya cuma siswa biasa, pinter banget kaga, bodoh banget kagak, cantik enggak, jelek juga enggak kan ya ? Hahaha.

Lalu saya dateng sama ciskimil-ciskimil kesayangan saya. Yasmine dan Flora. Usianya ? Dua-duanya 3 tahun, berasa bawa anak :/ .
Saya dateng pas udah lumayan rame. Saya bingung gak ngerti caranya kondangan gimana, tata caranya gimana. Pokoknya ga paham blas.
Yaudah saya dateng, ngisi buku tamu, trus duduk deh.
Tamu-tamu mulai pada datang, beberapa ada yg masih saya kenal dan dia kenal.
Pas lagi ngobrol, tiba-tiba ada beberapa gadis-gadis yang melambaikan tangan saya dan manggil-manggil nama saya.

"Dew..dewi.. Dew"

Saya masih dengan muka bengong saya sambil senyum merhatiin siapa yang manggil. Saya berusaha nginget-nginget, tapi gagal :(
Saya yang basic nya pelupa hal apapun ngerasa sedih.

Mereka lalu menghampiri saya dan menyalami saya.
"Dew, sekarang dimana? Pasti lupa ya sama kita"

Saya cuma bisa senyum tipis, muka sedih sambil bilang "maaf aku lupa, abis pada beda"

"Kamu itu yang berubah banget"

Tapi mereka bukan terus sinis atau gimana dengan kelupaan saya sama temen-temen Smp saya. Mereka malah ngebantu saya nginget-nginget dengan ngebahas cerita jaman Smp. Daaan sayaaa seneeeeeng banget!!!
Saya yang dari dulu pas Smp ngerasa gak banyak deket sama temen-temen satu angkatan, tapi malam itu mereka dengan ramah menyambut saya. Membuat saya ngerasa gak sendirian ditengah 'reuni kecil-kecilan' itu.

Setiap saya ketemu di jalan sama temen kecil saya yang saya paham mukanya meskipun gagal inget namanya saya akan selalu nyapa. Kenapa ?
Karena buat orang yang ngerasa terlupakan dari temen-temen masa sekolahnya, sapaan hangat meski hanya sekedar say hay itu berarti banget. Seenggaknya kita masih dianggap ada dalam memori mereka.

Jadi terus ingat ingat yang masih ingat.

Dewi Putri Lestari.

Senin, 13 Juli 2015

Jodoh dan Segala Kebingungannya

Saya menghela nafas panjang untuk beberapa topik perbincangan akhir-akhir ini di sekitar saya.
Sesuatu yang membuat kepala saya pening, hati saya gelisah, dan pikiran saya buntu.
Yak percakapan tentang masa depan.
Tidak hanya persoalan tentang materi tetapi juga jodoh.
Iya, Jodoh.
Entah kenapa beberapa perbincangan justru membuat saya gelisah, membuat saya takut, dan membuat keyakinan saya untuk sendiri dulu mulai goyah. Kenapa ?
Sejujurnya saya pun bingung bagaimana menjabarkan rasa takut itu, saya terlalu takut untuk membayangkan tanpa berani melangkah lebih maju.
Dada saya selalu sesak ketika orang-orang terdekat saya justru berkata sebaliknya apa yang mereka katakan dulu.
Dulu mereka bilang, "sekolah dulu, kerja dulu, baru serius"
Namun kata-kata itu seolah tidak pernah terucapkan ketika usia saya menginjak 20 tahun.
Mereka justru menggemakan sesuatu yang berbeda di kepala saya..
"Carilah dari sekarang, kalau sudah sibuk bekerja apa iya masih sempat punya waktu untuk mencari hal tersebut"

Rasanya sesak, ingin menangis kalau bisa.
Saya bingung saya harus bagaimana. Saya justru seperti berada di jembatan yang rapuh. Entah saya harus maju atau harus kembali. Saya tidak tahu. Saya bingung. Dan akhirnya saya menangis, melepaskan semua kesesakan, kegamangan, dan segala yang membuat hati ini berat.
Beberapa orang bilang saya terlalu muda untuk memikirkan hal itu.
Tapi... Segala perbincangan tentang jodoh membuat saya mulai takut.
Bersyukurlah untuk kalian yang sudah menemukan jodoh.

Mungkin yang harus saya lakukan saat ini adalah menjalani apa yang ada. Membenahi segala urusan yang harus dibenahi. Menjalani hidup dengan segala penerimaan kenyataan hidup saya.

Dewi Putri Lestari.

Minggu, 12 Juli 2015

Tuhan, terimakasih..

Tuhan..
Untuk apapun yang pernah terjadi dalam hidup saya, kemarin, hari ini, hingga esok dan seterusnya, saya berterima kasih.
Untuk segala kerapuhan dan kesedihan yang pernah datang, menguji dan menjatuhkan.
Untuk segala air mata, perjuangan, juga kegagalan demi kegagalan.
Saya berterima kasih.

Untuk hidup yang begitu penuh cerita,
yang berjalan seiring usia.
Air mata yang pelan-pelan akhirnya menyembuhkan luka.
Tawa yang diam-diam tersusun rapi dan mencipta bahagia, saya sungguh berterima kasih, Tuhan.
Untuk segalanya, untuk seterusnya.

Sebuah senja dan Teman masa kecil

Hai Ramadhan , sudah tinggal satu minggu lagi kita bertatap di tahun ini..
Ramadhan selalu membawa cerita yang berbeda pada tiap orang.
Hari ini saya mendapat banyak pelajaran dari teman yang usianya 21 tahun, yang saat ini menjadi tulang punggung keluarga, dan bisa membiayai pendidikan adik-adiknya dan mengangkat kehidupan orang tuanya.

Saya mengenalnya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya tahu benar bagaimana kondisi kehidupannya sejak kami masih anak-anak. (Maaf) Sangat jauh dari kata cukup.
Saya tinggal di lingkungan biasa (bukan perumahan). Jadi sejak kecil saya melihat macam-macam kehidupan, dari yang untuk makan hari ini saja ia harus berjuang keras sampai yang berkelimpahan makanan sampai-sampai makanan itu basi dan harus dibuang.

Ia membuka percakapan singkat kami sore tadi.
"mereka yang membuang makanan itu seharusnya tahu bagaimana rasa nya bersyukur. Kalaupun sudah tidak dimakan, ya berbagilah dengan tetangga kanan kirinya yang masih tidak bisa makan" .
Saya sering mendengar kalimat tersebut, tapi berbeda dengan kali ini. Hati saya seperti dihantam batu yang sangat keras. Pun malu.
Sementara saya masih terdiam, ia kemudian melanjutkan perkataannya.
"Bersyukurlah kalian yang masih bisa sekolah tinggi tanpa perlu memikirkan dan merasakan capeknya kerja"
"Bersyukurlah kalian masih bisa nongkrong di cafe mahal tanpa takut esok hari tidak bisa makan"
"Bersyukurlah karena kalian tidak perlu mengubur impian kalian hanya karna tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah"

DEG.
Bagi sebagian orang perkataan seperti itu hanyalah perkataan biasa. Tapi bagi saya kata-kata seperti itu harus terus didengungkan dalam kepala. Agar tak terlalu sering menuntut karna selalu mendongak ke atas. Supaya lebih sering melihat ke bawah, supaya lebih sering berucap syukur.

Setiap manusia yang lahir ke dunia, dia tidak pernah tahu akan lahir dari keluarga yang mana. Kalau semua boleh meminta, tentu saja mohon dilahirkan di keluarga yang berkecukupan.
Tapi Tuhan sudah membagi rata kan semua sesuai porsinya. Mungkin saya sendiri kalau diposisikan di tempat teman saya, saya belum tentu bisa menerima keadaan, dan berusaha keras untuk bangkit.

Dari sosoknya yang saya lihat sore tadi, tidak ada raut terbebani, tidak ada raut kesedihan. Yang terlihat adalah wajah lugu yang berseri penuh dengan keikhlasan dan segala penerimaan dalam hidup.

Terimakasih atas sore yang lebih hangat dari biasanya.
Terimakasih atas segala pelajarannya.
Aku tahu, sebentar lagi perjuanganku akan di mulai.

Dewi Putri Lestari

Kepada Orang Yang Baru Patah Hati

Oleh Raditya Dika

Kepada Orang Yang Baru Patah Hati: http://youtu.be/SfuQeHA0r64

Persilahkan dirimu bersedih. Para orang punya pandangan yang aneh tentang bersedih. Seakan-akan bersedih adalah hal yang tabu, seakan kamu harus buru-buru tertawa. Setelah hal buruk menimpah, tapi tidak ! Seperti hujan di tepi senja, kamu harus membiarkan setiap sendu yang ada.
Setiap kematian butuh peratapan, begitu pun cinta yang telah mati, maka lakukanlah apa yang orang patah hati lakukan. Menangis hingga tidak bisa mendengar suaramu sendiri, makan coklat sebanyak-banyaknya, mandi air panas hingga jarimu pucat, pergi ke kafe dengan tatapan nanar, pesan satu buah es teh manis karena kopi mungkin terlalu pahit untuk diminum disaat seperti ini. Izinkanlah dirimu bersedih. Menangislah seakan ini terakhir kalinya kamu dikecewakan seseorang. Menangislah seakan kamu lupa caranya berharap.

Kepada orang yang baru patah hati
Setelah kamu bosan bersedih. Inilah saatnya kamu mengangkat dirimu kembali. Mulai dengan hal yang mudah, kamu bisa mulai coba mengambil gitar dan mengambil nada-nada mayor yang bahagia. Ambil piano dan bermain soneta yang indah, atau jika kamu tidak bisa bermain musik lihatlah dirimu didepan cermin dan bersenandunglah. Lalu diantara nada-nada itu bisikkan kepada dirimu sendiri "Aku pantas untuk bahagia".

Kepada orang yang baru patah hati
Selalu ada teman untuk menemani kamu, pergilah bertemu teman mu. Tertawalah sampai lupa waktu. Tanyakan kabar teman yang lain, pamerlah keberhasilanmu dibidang-bidang yang kamu suka. Dan jika memungkinkan nongkronglah sampai kamu di usir dari tempat itu, emang sih kenangan terhadap dirinya kadang masih sering menganggu.
Tempat yang kalian pernah datangi tidak akan terasa sama. Teman yang belum tau mungkin akan menghampirimu dan bertanya "Si dia mana ya ?", yang kamu akan balas dengan senyum tipis, entah bagaimana menjawabnya. Tapi percayalah satu hal semua ini akan berlalu, sama seperti hal lain di dunia, semua hal buruk pasti akan beranjak pergi, hujan pasti akan terganti langit biru, gelap pasti terganti terang, dan luka pasti terganti dengan senyuman tipis dibibirmu.

Kepada orang yang baru patah hati
bersabarlah, karena di setiap gelap ada cahaya kecil, karena disetiap sakit ada pembelajaran, karena kamu pantas untuk bahagia kembali. 

Sabtu, 04 Juli 2015

Berdamai dengan Diri Sendiri

"Sejelek-jeleknya bercanda adalah yang ngatain fisik orang lain, kayak kamu udah paling sempurna aja".

Kata-kata itu terngiang-ngiang terus di kepala saya, karena saya menjadikan kalimat itu sebagai self reminder. Buat apa ? Ya tentunya untuk mengingatkan saya agar bisa lebih bersyukur, lebih menghormati orang lain, dan tidak menghina ciptaan Tuhan.
Mungkin postingan kali ini akan terasa " sok" baik atau sok sok yang lainnya. Terserah ya. Tapi buat saya pribadi, sejak kecil saya tidak pernah diajarkan untuk memandang kelemahan/kekurangan orang lain sebagai bahan lelucon yang begitu ringan dilontarkan.
Beberapa orang sering bilang sama saya, saya ini terlalu sensitif, pulangnya kurang malam, atau tidak asik untuk di ajak bercanda.
Well, segitu gak ada kah bahan gurauan lain yang lebih pantas dilontarkan tanpa menyakiti hati orang yang lain ?
Segitu rendahnya selera humornya, sampai-sampai ejekan fisik bisa membuat anda tertawa ?
Apa dengan mengejek orang lain anda bisa lebih bahagia dan merasa jauh diatasnya ? ...poor you.
Postingan ini tidak hanya mewakili kata hati saya, tetapi beberapa teman yang juga kurang berkenan dengan hal seperti itu.
"Ih idung lo gede amat, ih badan lo dari dulu cungkring terus, ih mata lo belo amat, ih gendut banget kaya kebo, ih giginya nongol, ih jalannya pincang.. " dan ih ih lainnya yang bikin saya perlahan males dengan tipe orang yang seperti itu.

Sakit hati ? Bagi sebagian orang, IYA.
Tapi untuk saya sendiri, saya berusaha untuk gak marah, gak dipikirin, dan gak diambil hati. Tapi saya gak bisa memungkiri kalau saya kecewa, kecewa dengan orang-orang yang seperti itu.
Tidak apa-apa kalo yang bilang seperti itu adalah versi terbaik tercantik terganteng dari manusia, tapi emang ada yang kayak gitu ? Gak ada.
Kalo kita bisa request sama Tuhan, saya yakin gak ada tuh yang mau diciptakan dengan memiliki kekurangan. Pun udah pasti saya bakal minta jadi yang paling baik, paling cantik, dan gak ada yang menyamai ya. Tapi nyatanya kita hanya makhluk Tuhan yang sudah diciptakan sedemikian rupa, yang udah dianugerahin hati nurani, akal, pikiran supaya bisa nerima dan menjalani hidup versi terbaiknya masing-masing.

Saya cuma males meladeni yang seperti itu. Anggaplah saya ini sensian. Tapi saya cuma pengen liat gak ada lagi yang melontarkan guyon menyakitkan macam itu. Okelah kalau itu sahabat akrab,dll. Tapi yang sering saya temui adalah mereka yang mengatai itu gak akrab-akrab amat, tau luar dalamnya pun tentu tidak.
Ya saya juga masih terus belajar ilmu bersyukur yang kadang suka lupa. Saya masih suka (banget) banyak ngeluh sama keadaan saya, masih suka ngeluh ini itu yang sampai akhirnya saya capek menjadi seseorang yang tidak bersyukur. Saya akhirnya memilih untuk berdamai dengan diri saya sendiri, menerima dan berusaha bersyukur dengan apa yang saya sudah miliki selama ini.
Saya mulai bisa menjawab guyon-guyon memyakitkan itu dengan senyuman, tanpa merasa takut dihakimi lagi.
Dan saya lebih memilih untuk tetap percaya diri dengan segala kekurangan saya. Karena bagi saya definisi cantik itu bukan semata keindahan fisik. Tapi juga tentang keindahan atas hati yang ikhlas menerima segala kekurangan yang dimiliki.

Dari dewi putri yang 3 hari lagi mau masuk "kepala dua". Semoga gak pernah putus-putus bersyukur sama Tuhan.

Dewi Putri Lestari.