Jika ini membosankan, maka tinggalkanlah. aku hanya menulis apa yang aku ingin tulis :)

Senin, 24 Agustus 2015

Untitled

Karena manusia sejatinya tempat segala kesalahan bermuara.
Pada Tuhan segala pengampunan di panjatkan.
Pada Tuhan segala permintaan diajukan.
Biarkan hanya aku dan Tuhan yang tahu, apa saja yang sudah dipanjatkan.
Jika pada akhirnya tak dikabulkan, mungkin Tuhan ingin aku lebih gigih
Sebab, setahuku meminta tak cukup hanya lewat kata..

Dewi Putri Lestari.

Jumat, 21 Agustus 2015

Biarkan Cinta Temukan Jalan Pulang

Selamat siang di hari yang cukup terik di minggu ketiga bulan Agustus.
Satu minggu yang lalu, menjadi hari yang tak biasa. Hari penuh cerita, pun segala doa dan pengharapan dijawab Tuhan di hari itu.
Dia yang hampir satu bulan ini menghilang tanpa sebab.
Dia yang hampir satu bulan ini tidak pernah aku ingin ketahui kesehariannya.
Dia yang hampir satu bulan ini berusaha aku lupakan bayangannya.
Dan..dia yang selama ini berusaha aku jadikan biasa..

Sungguh tidak pernah terbayangkan sedikitpun aku akan menemuinya secara nyata. Tidak hanya lewat foto.
Kaget ? Sudah pasti.
Bahagia ? Jelas.
Kecewa ? Iya.
Kangen? Jangan tanya.

Semua rasa itu berkecamuk dibalik aku yang berusaha fokus dan tetap tenang malam itu.
Aku sama sekali tidak memperlakukannya dengan istimewa. Aku hanya bersikap seperti teman lama yang tak terlalu akrab beserta tatapan dingin.
Setelah hari itu, semua berubah.
Dia hadir lagi, menyapaku dengan nada khasnya seperti beberapa bulan silam.
Antara senang dan kecewa ketika tahu kehadirannya membawa sebuah pengakuan. Pengakuan yang selama ini aku nantikan, ternyata kita punya rasa yang sama..

Lalu kenapa pergi ? Lalu kenapa menghilang ? Lalu kenapa... kamu hadir kembali ?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergelayut dibenakku sampai akhirnya aku menemukan jawabannya..

"Jalan pulang itu masih sama bukan ? Rumah itu masih sama bukan?" aku masih terdiam.
"Bukankah dulu kau yang bilang bahwa aku boleh pergi kemana saja tapi alamat pulangku tetap menuju hatimu?"

Mataku berkaca-kaca tanpa bisa mulutku mengucap satu kata pun.

"Rumah itu masih untukku kan ? Jalan pulang itu masih milikku bukan ? Atau kau sudah memberikannya pada orang lain?"

Aku menggeleng dengan yakin.
"Lalu kenapa kau masih diam saja ? Tolong jawab pertanyaanku.."

Aku masih terdiam. Aku tidak tahu aku harus menjawab pertanyaannya pada hati yang masih tertegun atas kehadirannya kembali.

Aku tidak tahu, aku sedang tidak yakin dengan siapapun meskipun aku tahu rasa ini untuk siapa.
Lalu keheningan memecah suasana yang ribut penuh dengan segala prasangka..
Aku hanya mencoba berserah terhadap apapun kepada Sang Maha membolak-balikan hati manusia..
Karena aku, sudah tidak ingin kecewa lagi..
Biarkan ia menemukan jalan pulangnya sendiri, biarkan waktu yang menjelaskan siapa rumahmu..
Dan.. Biarkan cinta temukan jalan pulangnya sendiri..

Dewi Putri Lestari

Minggu, 19 Juli 2015

Makhluk Sejuta Topeng

Untuk makhluk Tuhan yang paling pandai bersandiwara memendam sejuta rasa yang ia rasakan, Wanita.

Hay wanita, masih kuat bersandiwara dengan senyuman palsu dan prinsip rapuh yang dibungkus ketegaran ?

Hay wanita, masih kuat berjalan sendiri tanpa mempunyai tempat untuk bersandar ?

Hay wanita, masih mau tetap menutup hati padahal sesungguhnya hati kecil sudah meminta untuk terbuka ?

Hay wanita, masih sanggup menghadapi semuanya sendiri diatas kaki sendiri ?

Sesungguhnya ia adalah makhluk yang sangat ingin dicintai tanpa ingin dikasihani.
Sesungguhnya, segala keangkuhan yang kamu saksikan hanyalah sandiwara semata.
Karena mereka, hanya ingin dicintai sepenuh hati.
Karena mereka ingin diterima apa adanya dengan segala kekurangan yang tidak bisa dikurangi.

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan wanita merasa sedih kecuali dirinya sendiri.
Karena wanita hanya ingin diperjuangkan dengan sepenuh hati, bukan setengah hati.

Dewi Putri Lestari.

Ingat-Ingat yang Masih Ingat

Semalam saya menghadiri undangan pernikahan teman kecil saya sekaligus juga teman Smp saya.
Ini acara pernikahan kedua yang berhasil saya datangi. Kenapa harus dikatakan berhasil ? Karena biasanya tiap teman saya menikah kadang ada sesuatu yang membuat saya tidak bisa hadir. Selain alasan gak di undang, kadang ketika saya diundang, saya sudah kembali lagi ke perantauan.
Dan semalam  saya berhasil datang dengan rasa gentar "mau kesana sama siapa?"
"Udah lama banget gak pernah ketemu, apa iya ada yang masih ingat saya"

Sementara saya bukan deretan siswa yang tenar pada masanya. Saya cuma siswa biasa, pinter banget kaga, bodoh banget kagak, cantik enggak, jelek juga enggak kan ya ? Hahaha.

Lalu saya dateng sama ciskimil-ciskimil kesayangan saya. Yasmine dan Flora. Usianya ? Dua-duanya 3 tahun, berasa bawa anak :/ .
Saya dateng pas udah lumayan rame. Saya bingung gak ngerti caranya kondangan gimana, tata caranya gimana. Pokoknya ga paham blas.
Yaudah saya dateng, ngisi buku tamu, trus duduk deh.
Tamu-tamu mulai pada datang, beberapa ada yg masih saya kenal dan dia kenal.
Pas lagi ngobrol, tiba-tiba ada beberapa gadis-gadis yang melambaikan tangan saya dan manggil-manggil nama saya.

"Dew..dewi.. Dew"

Saya masih dengan muka bengong saya sambil senyum merhatiin siapa yang manggil. Saya berusaha nginget-nginget, tapi gagal :(
Saya yang basic nya pelupa hal apapun ngerasa sedih.

Mereka lalu menghampiri saya dan menyalami saya.
"Dew, sekarang dimana? Pasti lupa ya sama kita"

Saya cuma bisa senyum tipis, muka sedih sambil bilang "maaf aku lupa, abis pada beda"

"Kamu itu yang berubah banget"

Tapi mereka bukan terus sinis atau gimana dengan kelupaan saya sama temen-temen Smp saya. Mereka malah ngebantu saya nginget-nginget dengan ngebahas cerita jaman Smp. Daaan sayaaa seneeeeeng banget!!!
Saya yang dari dulu pas Smp ngerasa gak banyak deket sama temen-temen satu angkatan, tapi malam itu mereka dengan ramah menyambut saya. Membuat saya ngerasa gak sendirian ditengah 'reuni kecil-kecilan' itu.

Setiap saya ketemu di jalan sama temen kecil saya yang saya paham mukanya meskipun gagal inget namanya saya akan selalu nyapa. Kenapa ?
Karena buat orang yang ngerasa terlupakan dari temen-temen masa sekolahnya, sapaan hangat meski hanya sekedar say hay itu berarti banget. Seenggaknya kita masih dianggap ada dalam memori mereka.

Jadi terus ingat ingat yang masih ingat.

Dewi Putri Lestari.

Senin, 13 Juli 2015

Jodoh dan Segala Kebingungannya

Saya menghela nafas panjang untuk beberapa topik perbincangan akhir-akhir ini di sekitar saya.
Sesuatu yang membuat kepala saya pening, hati saya gelisah, dan pikiran saya buntu.
Yak percakapan tentang masa depan.
Tidak hanya persoalan tentang materi tetapi juga jodoh.
Iya, Jodoh.
Entah kenapa beberapa perbincangan justru membuat saya gelisah, membuat saya takut, dan membuat keyakinan saya untuk sendiri dulu mulai goyah. Kenapa ?
Sejujurnya saya pun bingung bagaimana menjabarkan rasa takut itu, saya terlalu takut untuk membayangkan tanpa berani melangkah lebih maju.
Dada saya selalu sesak ketika orang-orang terdekat saya justru berkata sebaliknya apa yang mereka katakan dulu.
Dulu mereka bilang, "sekolah dulu, kerja dulu, baru serius"
Namun kata-kata itu seolah tidak pernah terucapkan ketika usia saya menginjak 20 tahun.
Mereka justru menggemakan sesuatu yang berbeda di kepala saya..
"Carilah dari sekarang, kalau sudah sibuk bekerja apa iya masih sempat punya waktu untuk mencari hal tersebut"

Rasanya sesak, ingin menangis kalau bisa.
Saya bingung saya harus bagaimana. Saya justru seperti berada di jembatan yang rapuh. Entah saya harus maju atau harus kembali. Saya tidak tahu. Saya bingung. Dan akhirnya saya menangis, melepaskan semua kesesakan, kegamangan, dan segala yang membuat hati ini berat.
Beberapa orang bilang saya terlalu muda untuk memikirkan hal itu.
Tapi... Segala perbincangan tentang jodoh membuat saya mulai takut.
Bersyukurlah untuk kalian yang sudah menemukan jodoh.

Mungkin yang harus saya lakukan saat ini adalah menjalani apa yang ada. Membenahi segala urusan yang harus dibenahi. Menjalani hidup dengan segala penerimaan kenyataan hidup saya.

Dewi Putri Lestari.

Minggu, 12 Juli 2015

Tuhan, terimakasih..

Tuhan..
Untuk apapun yang pernah terjadi dalam hidup saya, kemarin, hari ini, hingga esok dan seterusnya, saya berterima kasih.
Untuk segala kerapuhan dan kesedihan yang pernah datang, menguji dan menjatuhkan.
Untuk segala air mata, perjuangan, juga kegagalan demi kegagalan.
Saya berterima kasih.

Untuk hidup yang begitu penuh cerita,
yang berjalan seiring usia.
Air mata yang pelan-pelan akhirnya menyembuhkan luka.
Tawa yang diam-diam tersusun rapi dan mencipta bahagia, saya sungguh berterima kasih, Tuhan.
Untuk segalanya, untuk seterusnya.

Sebuah senja dan Teman masa kecil

Hai Ramadhan , sudah tinggal satu minggu lagi kita bertatap di tahun ini..
Ramadhan selalu membawa cerita yang berbeda pada tiap orang.
Hari ini saya mendapat banyak pelajaran dari teman yang usianya 21 tahun, yang saat ini menjadi tulang punggung keluarga, dan bisa membiayai pendidikan adik-adiknya dan mengangkat kehidupan orang tuanya.

Saya mengenalnya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya tahu benar bagaimana kondisi kehidupannya sejak kami masih anak-anak. (Maaf) Sangat jauh dari kata cukup.
Saya tinggal di lingkungan biasa (bukan perumahan). Jadi sejak kecil saya melihat macam-macam kehidupan, dari yang untuk makan hari ini saja ia harus berjuang keras sampai yang berkelimpahan makanan sampai-sampai makanan itu basi dan harus dibuang.

Ia membuka percakapan singkat kami sore tadi.
"mereka yang membuang makanan itu seharusnya tahu bagaimana rasa nya bersyukur. Kalaupun sudah tidak dimakan, ya berbagilah dengan tetangga kanan kirinya yang masih tidak bisa makan" .
Saya sering mendengar kalimat tersebut, tapi berbeda dengan kali ini. Hati saya seperti dihantam batu yang sangat keras. Pun malu.
Sementara saya masih terdiam, ia kemudian melanjutkan perkataannya.
"Bersyukurlah kalian yang masih bisa sekolah tinggi tanpa perlu memikirkan dan merasakan capeknya kerja"
"Bersyukurlah kalian masih bisa nongkrong di cafe mahal tanpa takut esok hari tidak bisa makan"
"Bersyukurlah karena kalian tidak perlu mengubur impian kalian hanya karna tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah"

DEG.
Bagi sebagian orang perkataan seperti itu hanyalah perkataan biasa. Tapi bagi saya kata-kata seperti itu harus terus didengungkan dalam kepala. Agar tak terlalu sering menuntut karna selalu mendongak ke atas. Supaya lebih sering melihat ke bawah, supaya lebih sering berucap syukur.

Setiap manusia yang lahir ke dunia, dia tidak pernah tahu akan lahir dari keluarga yang mana. Kalau semua boleh meminta, tentu saja mohon dilahirkan di keluarga yang berkecukupan.
Tapi Tuhan sudah membagi rata kan semua sesuai porsinya. Mungkin saya sendiri kalau diposisikan di tempat teman saya, saya belum tentu bisa menerima keadaan, dan berusaha keras untuk bangkit.

Dari sosoknya yang saya lihat sore tadi, tidak ada raut terbebani, tidak ada raut kesedihan. Yang terlihat adalah wajah lugu yang berseri penuh dengan keikhlasan dan segala penerimaan dalam hidup.

Terimakasih atas sore yang lebih hangat dari biasanya.
Terimakasih atas segala pelajarannya.
Aku tahu, sebentar lagi perjuanganku akan di mulai.

Dewi Putri Lestari